Kamis, 15 Oktober 2015

Bedah Film Etnografi Atropologi "SAMIN VS SEMEN"



        Bedah film etnografi atau yang biasa dikenal dengan layar tancep adalah salah satu proker Himantara Divisi PSDM yang diadakan dua kali dalam satu periode. Layar tancep kali ini merupakan acara bedah film keenam yang telah diadakan Himantara dan diadakan pada tanggal 06 Oktober 2015, tepat dimulai pada pukul 19.15 malam. Film yang diputar berjudul Samin vs Semen yang diproduksi oleh Watchdoc Image dalam potongan perjalanan Indonesia Biru dengan pemateri satu Ibu Diah Rahayuningtyas, M.A dan Ibu Siti Zurinani, M.A sebagai pemateri dua. Acara layar tancep dimulai dengan penampilan pembuka dari Antrocoustic selama 10 menit, menampilkan tiga buah lagu dengan penampilan yang cukup meriah dan membangun suasana acara layar tancep, sekaligus sebagai simbolisme pembukaan acara bedah film etnografi.

            Perempuan sebagai sebuah pembahasan dalam masyarakat sangat menarik untuk diperbincangkan. Kesetaraan gender menjadi pembahasan yang dari zaman dahulu hingga sekarang masih diperjuangkan oleh banyak kalangan. Perempuan yang selalu dianggap sebagai objek, makhluk yang lemah, dan menjadi golongan kedua selalu tidak mendapatkan peran yang layak dalam struktur sosial. Konstruksi sosial yang telah mengakar pada pola pikir dan budaya masyarakat, membuat kesetaraan gender tidak terlihat dan dominasi laki-laki semakin kuat. Inilah yang membentuk sebuah gerakan feminis pada masyarakat, terutama kaum perempuan dalam memperjuangkan kesetaraan perempuan.

            Ibu Ayu mereview sedikit mengenai film Samin vs Semen, film yang mengisahkan perjuangan masyarakat Samin melawan pembangunan pabrik Indosemen, terutama perjuangan kaum perempuan. Kaum laki-laki Samin yang menjadikan kaum wanita Samin sebagai objek dalam proses penolakan pembangunan pabrik dan memberikan gambaran bagaimana kaum perempuan Samin sangat menjaga lingkungan terutama tanahnya. Tidak heran jika perjuangan perempuan Samin sangat agresif dalam mempertahankan tanah mereka.

            Review film yang disampaikan Ibu Ayu berlanjut pada sesi tanya jawab, Ibu Ayu mengulas bagaimana peran permpuan dalam struktur sosial masyarakat. Selain itu, beliau juga mengupas sedikit bagaimana peran perempuanSamin dalam situasi yang digambarkan dalam film tersebut. Jika dilihat maka pembahasan mengenai Eko-Feminisme sangat cocok jika dikaitkan dengan permasalahan gender yang terjadi pada masyarakat Samin. 

            Masyarakat Samin dengan budayanya yang sangat bergantung pada tanah, membuat masyarakat Samin tidak dapat lepas dari peran tanah dalam kehidupan sehari-hari mereka. Tanah yang menjadi salah satu media bagi seorang perempuan untuk menyampaikan pendidikan bagi anak-anaknya dan sebagai identitas yang membuat masyarakat Sanim dengan segenap tenaga mempertahankan tanahnya. Tanah sebagai sebuah media produksi dapat digambarkan sebagai gambaran perempuanyang disamakan sebagai bumi yang menjadi media produksi bagi manusia. Bila bertanya mengenai kaitan Eko-Feminisme yang terjadi dalam realita masyarakat Samin, maka perempuan seharusnya mendapatkan posisi dan dan perlakuan yang sama dalam mengurus tanah. Karena, perempuan sebagai agen of cultute, memiliki kewajiban untuk menjaga kebudayaannya (dalam hal ini tanah). Ketika tanah hilang, maka secara otomatis, kebudayaan mereka juga ikut hilang. Hal itu berkaca pada kebudayaan masyarakat Samin yang dekat dengan tanah. 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar