Sabtu, 02 April 2016

Bedah Film Etnografi Topeng Malangan

Bedah Film Etnografi Antropologi VI
Himantara (Himpunan Mahasiswa Antropologi Universitas Brawijaya) mengadakan kembali bedah film etnografi atau yang biasa dikenal dengan Layar Tancep, yang dimana Layar Tancep ini sendiri sudah dilaksanakan di tahun-tahun sebelumnya. Himantara periode 2016/2017 mengadakan acara bedah film etnografi yang lebih dikenal dengan Layar Tancep. Layar Tancep keenam kali ini membedah film Topeng Malangan dengan Bapak Manggala Ismanto, M.A sebagai pematerinya. Acara yang dilaksanakan pada tanggal 23 maret 2016, tepat dimulai pada pukul 18.30 yang diadakan di hall Fakultas Ilmu Budaya. Acara layar tancep dibawakan oleh mahasiswa Antropologi angkatan 2015 yaitu, Mada Kari Tidar dan di temani oleh Haflah Leste Distincta. Penampilan Obigbo Dance yang menyuguhkan tarian kontemporer modern sebagai intermezzo pembukaan dan setelah itu disusul dengan penampilan menawan dari AntroKustik dapat memberikan aura penyemangat dan sebagai simbolisme pembukaan acara Layar Tancep.
Layar Tancep tidak hanya menjadi sebuah acara nonton bareng tetapi juga sebagai sebuah acara bedah film etnografi yang membedah film-film yang sesuai dengan tema Layar Tancep setiap periodenya. Layar Tancep keenam ini mengambil tema kesenian, sehingga film yang dipilih juga yang berbau seni, yaitu Topeng Malangan. Tema seni kali ini dipilihi karena dewasa ini, budaya kita semakin tergerus dengan efek modernitas. Efek negatif yang diberikan mampu memudarkan eksistensi budaya yang seharusnya kita jaga kelestariannya. Topeng Malangan adalah salah satu budaya yang sampai sekarang masih bisa bertahan dari kerasnya arus modernitas yang ada di kota Malang. Pandangan kolot masyarakat dewasa ini yang beranggapan tidak pentingnya menjaga kelestarian budaya adalah pandangan yang salah besar. Dengan kita mengetahui asal-usul dari budaya itu sendiri menjadikan kita lebih memahami dan lebih respect terhadap apa yang telah diperjuangkan dalam kesenian masyarakat zaman dahulu. Topeng Malangan pun memberikan banyak pelajaran kepada kita dalam membedah film etnografi ini.
Bapak Manggala mereview sedikit mengenai film Topeng Malangan, yang dimana dalam film itu Tarian Topeng Malangan dilakukan sebagai upacara/ritual adat untuk penyerahan tanah dari raja kepada warga yang berpengaruh atau berperan penting dalam kerajaan. Cerita yang sering dibawakan dalam tari Topeng Malangan pun merupakan cerita panji. Warna topeng yang berbeda-beda memiliki makna khusus, gerakan-gerakan yang dilakukanpun menunjukkan kewibawaan. Diskusi santai yang dilakukan Bapak Manggala mengajak salah satu koreografer Obigbo Dance untuk berdiskusi bagaimana suatu gerakan tarian itu bisa tercipta dan apa makna dari itu semua, apakah ada maksudnya atau hanya tarian yang tidak ada nilainya sama sekali.
Review film yang disampaikan Bapak Manggala berlanjut pada sesi tanya jawab, yang dimana para penanya bertanya tentang eksistensi Topeng Malangan dewasa ini yang semakin surut peminatnya. Bapak Manggala Menjelaskan kurangnya regenerasi dan kesadaran masyarakat sangat mempengaruhi eksistensi dari kesenian satu ini. Namun, ada beberapa sanggar di Malang yang memang masih memegang warisan budaya tradisional satu ini. “Kenalilah Malang dan kenalilah budaya Malang, salah satu yang spesifik dan sebagai sumber adalah Topeng Malangan” ujar Suryo Wido. W, salah satu seniman yang mendukung pelestarian warisan budaya Malang dalam ulasan bedah film etnografi.

Usaha pelesatarian tersebut terbukti dengan adanya penanaman budaya Topeng Malangan kepada para pelajar muda yang belajar di sanggar tersebut, karena kalau tidak sekarang kapan lagi dan kalau tidak yang muda yang melestarikannya siapa lagi? Apakah hanya akan menunggu hilangnya warisan budaya ini sampai ditelan massa?. Tentunya peran masyarakat dan juga pemerintah sangat di butuhkan untuk menjaga kelestarian kesenian Topeng Malangan salah satunya. (z/a/m)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar