Jumat, 14 Oktober 2016

Dialog Etnografi II

Dialog Etnografi II

Dialog Etnografi kembali hadir untuk kedua kalinya dalam tahun ini. acara yang diselenggarakan Himpunan Mahasiswa Antropologi Unversitas Brawijaya (HIMANTARA) ini mengangkat tema “Dilematis Wacana Kenaikan Harga Rokok di Indonesia”. Tema tersebut terinspirasi dari fenomena yang tengah menjadi buah bibir di masyarakat. Dialog Etnografi kali ini mengundang Dosen dan Kepala LPPM UNIDA Gontor, Dr. Muh. Fajar Pramono, M.Si sebagai pembicara dan turut menghadirkan Dosen Antropologi Universita Brawijaya, Manggala Ismanto, M.A sebagai moderator. Acara ini dilaksanakan pada tanggal 29 September 2016 bertempat di lantai 2, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Brawijaya. Acara dibuka dengan hiburan musik dari Antrokustik serta dua orang MC, Bimo dan Dewi yang merupakan mahasiswa Antropologi Universitas Brawijaya.

Dalam diskusi dijelaskan bahwa Indonesia merupakan urutan no.1 sebagai negara perokok di dunia. Munculnya wacana kenaikan harga rokok sendiri berawal dari sebuah penelitian yang dilakukan oleh Pusat  Kajian Ekonomi dan Kebijakan Kesehatan (PKEKK) Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia. penelitian tersebut  mengenai perihal pengendalian konsumsi tembakau. Fakta dilapangan, 30 persen lebih pengguna rokok di Indonesia merupakan anak-anak berusia di bawah 10 tahun. Hal tersebut dikhawatirkan akan menimbulkan kerugian berupa menghilangnya bonus demografi di masa mendatang. Hasil penelitian juga mengatakan bahwa 76 persen respoden akan berhenti merokok jika harga rokok mencapai 50.000 rupiah/bungkusnya. Maka dari itu, wacana kenaikan harga rokok muncul guna mengurangi perokok di Indonesia dengan faktor kesehatan sebagai alasan utama.
Audince Dialog Etnografi


Penampilan Antrokustik
Pemerintah juga mengalami dilema mengenai kebijakan terkait kenaikan harga tembakau tersebut. Isu rokok dalam hal ini tidak hanya menyangkut penggunanya saja. Tetapi juga terkait mengenai perihal masalah tenaga kerja, ekspor dan impor, dan lainnya. Rokok juga merupakan penyumbang terbesar bagi pendapatan negara. Mengingat bahwa kebijakan kenaikan harga tersebut baru sebatas wacana saja, maka diharapkan pemerintah dengan dukungan masyarakat dapat menemukan titik tengah dalam masalah ini. serta dapat membuat kebijakan yang tepat untuk kebaikan semua pihak. (hld)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar