Senin, 12 Desember 2016

Temu Mata 2016

Temu Mata 2016 :
Dibalik Rupa Topeng Malangan

Pameran Foto dan Artefak Temu Mata Antropologi 2016


            Temu Mata Antropologi menjadi acara puncak dan terbesar yang diadakan oleh HIMANTARA Fakultas Ilmu Budaya Universitas Brawijaya setiap tahunnya. Pada tahun ketiga ini, Temu Mata Antropologi mengangkat tema Seni Pertunjukan Tari Topeng dibalik Rupa Topeng Malangan, sebagai bentuk pelesetarian dan memperkenalkan budaya seni Indonesia. Temu Mata Antropologi tahun ini memiliki tiga rangkaian acara dengan dua acara puncak, yaitu pameran foto dan artefak, pagelaran seni, dan seminar. Temu Mata Antropologi dimulai pada tanggal 16 – 19 November 2016.
            Pameran berisi 25 foto mengenai aspek-aspek dalam seni pertunjukan yang diambil oleh mahasiswa Antropologi 2015. Seperti foto pertunjukan Topeng Malangan, pertunjukan wayang, para sinden yang sedang bernyanyi, serta para pemain gamelan dalam sebuah pertunjukan seni. Tidak hanya menampilkan foto, pameran juga berisi artefak-artefak yang dipajang. Seperti, topeng-topeng yang biasa dipakai pada pertunjukan tari Topeng Malangan, aksesoris para penari saat pertunjukan Topeng Malangan, serta dupa dan kembang tujuh rupa yang menjadi pelengkap dalam ritual. Bagi mereka yang telah selesai berkeliling tidak lupa untuk berfoto di area photo booth yang telah disediakan oleh panitia dengan hiasan banner merah berhiaskan logo Temu Mata Antropologi 2016.
Pameran Foto 1


Pameran Foto 2
            Temu Mata Antropologi 2016 dibuka dengan pameran foto dan artefak pada hari Rabu tanggal 16 November hingga 17 November 2016 di Hall FIB. Acara pembukaan Temu Mata Antropologi 2016 dimulai pukul 07:50 WIB dengan sambutan dari ketua Himpunan HIMANTARA, yaitu Sannim Anami serta sambutan dari ketua pelaksana, yaitu Asprilo Meika Putra. Pembukaan kemudian dilanjutkan dengan proses pengguntingan pita yang dilakukan oleh ketua pelaksana sebagai bentuk simbolisasi. Setelah pembukaan selesai dilakukan, mahasiswa FIB dan umum dapat dengan leluasa melihat-lihat pameran foto dan artefak mengenai seni pertunjukan, terutama pada seni pertunjukan “Topeng Malangan”. Pameran dibuka dari pukul 08:00 – 17:00 WIB. Di hari pertama, hari Rabu tanggal 16 Desember 2016 banyak mahasiswa FIB yang datang dan melihat-lihat pameran. Tidak sedikit dari mahasiswa yang meminta guide yang telah disediakan oleh panitia untuk mengantar berkeliling serta menjelaskan tiap-tiap foto dan artefak yang dipamerkan.
Pameran Foto 3
Pada hari pertama terlihat banyaknya antusias dari mahasiswa FIB UB untuk melihat pameran dan  dan antusiasme  ini juga terlihat di hari kedua pameran. Hari kedua pameran dibuka pada pukul 08:00 WIB, di hari kedua ini tidak hanya mahasiswa FIB UB saja yang turut melihat pameran tetapi juga mahasiswa dari luar FIB. Seperti di hari pertama, para guide yang berasal dari panitia akan dengan senang hati menemani berkeliling serta menjelaskan setiap foto dan artefak yang dipamerkan. Pada hari kedua, pameran dibuka lebih lama karena menjadi hari terakhir dari pameran foto dan artefak Temu Mata Antropologi 2016. Pameran dibuka dari pukul 08:00 – 18:00 WIB, dan menjelang akhir pameran masih terlihat mahasiswa yang sibuk berfoto di area photo booth. Rangkaian acara pameran foto dan artefak Temu Mata Antropologi 2016 ditutup pada hari Kamis tanggal 17 November 2016, namun kemeriahan acara Temu Mata Antropologi 2016 tidak berhenti sampai disini karena masih ada rangkaian acara puncak yang akan berlangsung pada tanggal 18 – 19 November 2016.

Pagelaran Seni Temu Mata Antropologi

            Berbeda dengan tahun lalu, hari ini tepatnya pada tanggal 18 November 2016 Temu Mata Antropologi memiliki 2 puncak acara yaitu pada Pagelaran Seni dan Seminar yang diadakan keesokan harinya. Pada acara kali ini, Temu Mata yang di adakan oleh 3 proker divisi JKAI, PSDM dan Orsen mengangkat tema Seni Pertunjukan Tari Topeng dibalik Rupa Topeng Malangan. Sebelum melewati puncak pertama pada pagelaran seni ini, 2 hari sebelumnya kami mengadakan Pameran Artefak tepatnya di Hall Fakultas Ilmu Budaya.
            Pagelaran Seni dan Bazzar yang menjadi puncak pertama Temu Mata Antropologi 2016 ini dilaksanakan di area parkir Fakultas Ilmu Budaya dengan Raissa Nadia Aulia dan Dwi Febianto sebagai Master of Ceremony. Tidak hanya menggelar pentas kesenian, namun ada pula bazzar makanan seperti divisi K3 yang menjual bola-bola salmon dan gurita, dan danus PPJKA yang menjual minuman chocotea juga air mineral, ada pula Cheerfulicious yang menjual berbagai macam sweater untuk laki-laki dan wanita, kerudung wanita dan juga strip tee.

            Pagelaran Seni ini di buka dengan penampilan dari Antroband yang terdiri dari Iqbal sebagai Vokalis, Dicky sebagai Gitaris, Rezon sebagai Basis dan Gilang sebagai Drummer. Antroband adalah band yang diisi oleh para mahasiswa Antropologi 2015, pada malam ini Antroband membawakan sebuah lagu berjudul “You Look So Perfect” milik 3 Second of Summer. Pada penampilan selanjutnya adalah HER yang membawakan lagu berjudul “I Will Fly” milik Ten2Five dan Vierra “Bersamamu” dengan Kheisa sebagai Vokalis. Tidak hanya band dari mahasiswa Antropologi 2015 saja, ada pula Lampu Taman Band yang kolaborasi dengan Marsya Paramita (Antropologi 2013) sebagai Gitaris, Mujib (Antropologi 2015) sebagai Basis dan Sylvi (Antropologi 2015) sebagai vokalis yang  mengiringi dua buah lagu dengan lagu pertama berjudul Minpi milik Anggun dan Fall For You milik Secondhand Serenade membuat malam semakin sendu.
            Namun, pada acara malam ini kami tidak hanya mewejangkan sebuah nyanyian akan tetapi kami juga menampilkan sebuat tarian dari Obigbo Dance yang terdiri dari 3 orang penari yaitu Yola, Lely dan Dewi dari Antropologi 2015. Tak terlepas dari tema pagelaran seni malam ini, para penari Obigbo dance membawakan sebuah tarian kontemporer dengan menggunakan topeng dan menceritakan bahwa para penari ini awalnya adalah bersahabat akan tetapi salah satu diantara mereka berkhianat dan memunculkan konflik sehingga dua temannya itu meninggalkan salah satu yang berkhianat diantara mereka.
            Wejangan pagelaran seni selanjutnya dari kami adalah Dawai Marcel yaitu sebuah performance dari Marcel yang membawa budaya khas kalimantan dengan menggunakan alat musik Sape. Pada performance-nya Marcel membawakan instrumen lagu berjudul Abadi miliknya sendiri yang sangat merdu.
            Pada seni tari, tak hanya dari Obigbo Dance, kami juga menampilkan sebuah tarian Reog Ponorogo yang dibawakan oleh Yusad Baskoro. Tarian ini bernama Tari Sutrasena. Penari tersebut menggunakan sebuah kostum disertai topeng khas Ponorogo berwarna merah yang menandakan jiwa keberanian.
            Selanjutnya kami beralih kembali dari pertunjukan seni tari ke pertunjukan musik kembali, kami menampilkan sebuah band dari UKM Musics  bernama 25Circle yang tercipta akibat seringnya berkumpul di sebuah Café Circle pada meja nomer 25, mereka nembawakan lagu berjudul Misteri Tentang Rasa milik Andira dan Amnesia milik 3 Second of Summer yang tak hanya dinyanyikan oleh sang Vokalis namun dinyanyikan oleh sang Gitaris juga. Pertunjukan dari 25Circle pun ditutup oleh sebuah lagu berjudul Stitches milik Shawn Mendes.
            Kembali kami wejangkan sebuah tarian tradisional dari Economic Dance Club yaitu 2 penari wanita mengenakan makota yang dapat kita sebut Tambah Meka, juga gelang kerincing pada kaki yang dapat kita sebut pula sebagai Gonasena. Tarian yang dibawakan oleh Hasana dan Sifa (Fakultas Ekonomi dan Bisnis) ini adalah khas Jawa Timur Gondang Malam yang sudah didirikan pada tahun 1998.
            Dengan lantunan musik berirama Reggae berjudul Santeria yang dibawakan oleh Antroband menunjukan bahwa acara puncak pertama Temu Mata Antropologi 2016 telah berakhir, dan akan dilanjutkan oleh puncak akhir acara seminar di hari esok.

Seminar Temu Mata 2016
            Temu Mata merupakan acara yang diadakan oleh program studi Antropologi, puncak acaranya adalah seminar yang dilaksanakan pada 19 November 2016 yang sebelumnya sudah diadakan acara pameran foto beserta artefak Topeng Malangan, juga acara bazaar. Seminar dengan tema “Tari Topeng Jawa Timur: Di balik Rupa Topeng Malangan” dengan Bapak Yusri Fajar sebagai pembicara 1 dan Bapak Suroso sebagai pembicara 2 dan Bapak Aji Prasetya sebagai moderator. Seminar ini dibuka dengan penampilan dari Teater Hening.
            Topeng di Jawa Timur merupakan sebuah aset kebudayaan tersendiri. Menurut Bapak Yusri topeng bila diidentifikasikan terdapat dua identitas: pertama, topeng sebagai produk kerajinan. Kedua, topeng sebagai media pertunjukan yang memiliki satu kesatuan yang dinamakan tari topeng. Pertunjukan tari topeng tidak hanya melalui kemampuan menari tetapi sebagai suatu ekspresi dari sekolompok masyarakat berdasarkan pengalaman-pengalaman tidak hanya sosial budaya tetapi juga spiritual atau religius. Proses pembuatan tari topeng juga memiliki konten-konten ritual untuk membangun relasi yang kuat berkomunikasi dengan leluhur.
Penyampaian Materi
            Bapak Yusri membahas mengenai eksistensi dan dibalik proses tari topeng. Sejauhmana masyarakat Jawa Timur mengenal topeng dan membutuhkan tari topeng didalam membangun identitas kebudayaan. Tidak hanya itu, berbagai fungsi dan arti topeng juga dibahas. Kemudian dilanjutkan oleh Bapak Suroso yang membahas mengenai wayang topeng di Malang yang menampilkan berbagai tari-tarian yang digabung menjadi satu rangkaian yang dikemas dengan sastra jawa.
Moderator Sebagai Pemandu Acara
Dalam perkembangan kebudayaan, bagaimana agar Topeng Malangan bisa dikenal? banyak program-program terkait dengan pengembangan dan pelestarian kesenian daerah yang perlu dimaksimalkan dan dilaksanakan secara komprehensif. Mengenai pemberian fasilitas-fasilitas pelestarian, seperti Museum Topeng Malangan di Batu, Jawa Timur diharapkan tidak hanya sekedar tongkrongan tertentu.
Seminar ini ditutup oleh pernyataan dari Bapak Aji Prasetya bahwa budaya itu dinamis, budaya itu seperti bahasa ketika tidak ada yang memakai maka akan hilang, begitu juga dengan kesenian Topeng Malangan. Bapak Aji Prasetya juga mengajak kita untuk mengenali dan peduli dengan kesenian dan kebudayaan disekitar kita. Kemudian acara ini diakhiri oleh penampilan dari penari Asmoro Bangun.
Foto Panitia


Tidak ada komentar:

Posting Komentar