Minggu, 22 November 2015

TEMU MATA ANTROPOLOGI 2015

 Temu mata merupakan salah satu acara program kerja dari divisi JKAI (Jaringan Kekerabatan Antropologi Indonesia) yang bekerja sama dengan divisi ORSEN (Olahraga dan Seni) dan PSDM (Pengembangan Sumber Daya Mahasiswa) yang berada dibawah naungan HIMANTARA (Himpunan Mahasiwa Antropologi Brawijaya). Acara temu mata sendiri terdiri dari dua rangkaian acara. Pertama adalah pameran artefak yang dilaksanakan pada tanggal 11-13 November di Hall Fakultas Ilmu Budaya. Pada pameran artefak ini dipajang beberapa aksesoris keagamaan dari berbagai agama-agama besar yang ada di Indonesia. Mulai dari aksesoris agama Islam, Kristen, Budha, Hindu, Katolik. 


 


Rangkaian acara selanjutnya yang sekaligus menjadi puncak dari acara temu mata adalah seminar dengan judul “Akar Religi Nusantara: Sebuah Perjalanan Masyarakat Mengenal Tuhan” yang diadakan di Studio UBTV pada hari minggu 15 November 2015. Pada pukul 08:52, penonton, tamu, dan undangan telah banyak berdatangan, segera memasuki studio UBTV dan menempati tempat yang telah tersedia. Pukul 09:20 acara pun dimulai yang dipandu oleh dua orang pembawa acara. Diawali dengan pembukaan kemudian disusul penampilan dari Teater Hening yang sekaligus menjadi simbol dibukanya acara seminar. Penampilan dari Teater Hening mengisahkan tentang seseorang yang mencari jati dirinya. Mencari apa yang sebenarnya sangat dibutuhkan dalam hidup. Pada saat pencarian jati diri itu, kemudian muncullah seseorang menawarkan uang yang berlimpah. Akhirnya, tidak lama kemudian, seseorang tadi tergiur dengan uang tersebut. Dia berpikir dia bisa berbuat apa saja dengan uang yang melimpah. Bisa membeli rumah yang besar, mobil, bisa beristri lebih dari satu, bisa mmebeli tanah. Bahkan seseorang tersebut berkata tidak lagi membutuhkan Tuhan. Akan tetapi tidak lama setelah itu, seseorang tersebut mati. Kisah yang ditampilkan dalam teater tersebut sebenarnya ingin menyampaikan suatu pembelajaran bahwa manusia yang sempurna adalah manusia yang mengenal Tuhan. Akan tetapi, yang terjadi pada masyarakat akhir-akhir ini justru memilih kesempurnaan hidupnya pada hal yang bersifat duniawi. 



                       Gambar 2. Penampilan Teater Hening “Sandaran Palsu”.
Setelah penampilan dari teater hening, maka masuk pada acara inti yaitu seminar. Seminar ini dipimpin oleh moderator Bapak Bandung Edi Suseno, seorang konsultan WWF Indonesia. Juga dua orang pemateri yaitu Bapak Drs. Riyanto, M.Hum dan Bapak Arief B Nugroho, M.Si. Sebelum pemberian materi dari dua narasumber, moderator terlebih dahulu memberikan pengantar mengenai awal mula perkembangan religi di nusantara dengan menampilkan peta nusantara. Berdasarkan peta yang ditampilkan, moderator secara singkat menjelaskan bagaimana awalnya manusia bertebaran di nusantara yang kemudian manusia itu mulai memiliki agama. Setiap agama, memilliki simbol yang pada dasarnya setiap agama memiliki kesamaan.
Setelah pemaparan singkat dari moderator, maka giliran Bapak Riyanto menyampaikan materinya yaitu “Perkembangan Religi Nusantara”. Bapak Riyanto menjelaskan bahwa agama-agama asli nusantara sering kali mengalami pasang surut. Pasang surut agama asli disebabkan beberapa hal, yaitu materialistik dan status sosial. Bahwa sebenarnya agama telah diwarnai oleh hal-hal yang bersifat duniawi sehingga agama sering kali dikatakan sebagai komoditas. Apabila berbicara mengenai materialistik, maka tidak terlepas dari status sosial. Karena status sosial sering kali didefinisikan atau dilekatkan pada apa yang dikonsumsi. Inilah mengapa agama-agama asli mengalami pasang surut, karena dipengaruhi oleh sifat materialistik masyarakat kini dan juga status sosial.
Apabila dirunut berdasarkan perjalanan agama, sebagian besar masyarakat menjawab hal yang sama bahwa dia melakukan tradisi keagamaan seperti ini dan itu dengan mengacu pada nenek moyang mereka yang juga melakukan hal yang sama. Beberapa orang juga menjawab bahwa mereka melakukan tradisi keagamaan seperti ini dan itu karena orang memiliki otoritas besar dalam hidupnya juga melakukan hal yang serupa. Ada juga yang menjawab bahwa mereka melakukan tradisi keagamaan seperti ini dan itu karena merasa mendapat ilham, merasa bahwa hal itu adalah benar untuk dilakukan. Berdasarkan jawaban-jawaban yang ada, maka awal muncul kepercayaan agama karena berpatokan pada orang yang memiliki otoritas. Meski pada awalnya demikian, akan tetapi seiring berjalannya waktu keyakinan itu mulai menguat dengan sendirinya. Sehingga meskipun orang yang menjadi panutan pada awal munculkan kepercayaan agama tidak lagi bersama kita, keyakinan tersebut akan tetap dijalankan. Hal ini serupa dengan salah satu bunyi ayat dalam kitab suci Al-qur’an yang berarti “barang siapa mengenal dirinya, maka akan mengenal Tuhan”.
Setelah pemaparan materi dari Bapak Riyanto selesai, maka dilanjutkan dengan pemberian materi dari Bapak Arief B Nugroho yang diberi judul “Quo Vadis Nusantara”. Bapak Arief menjelaskan perbedaan religi dan keyakinan. Berbicara mengenai religi, religi sebenarnya adalah bagian dari budaya. Ketika seseorang tidak dapat menyelesaikan permasalahan, maka pada titik inilah mulai muncul kepercayaan tentang adanya kekuatan tertinggi. Kekuatan tertinggi yang diyakini bersarang pada benda-benda magis seperti topeng, kemudian muncul keyakinan tentang adanya dewa tertinggi, lalu kemudian mulai memunculkan istilah Tuhan. Istilah agama mulai muncul pada kondisi seseorang dihadapkan pada suatu permasalahan dan tidak bisa menyelesaikannya. Lalu kemudian timbul pertanyaan, lalu siapa yang mampu menyelesaikan permasalahan. Maka muncullah ide tentang kekuatan tertinggi, kekuatan yang mampu menyelesaikan setiap permasalahan bahkan yang tidak dapat dipecahkan. Dari sinilah kepercayaan tentang agama juga mulai muncul.
Agama tidak bisa dipisahkan dari budaya. Dalam artian, agama itu muncul dari hasil ekspresi manusia ketika dia memecahkan masalah yang muncul dalam kehidupan sehari-harinya. Kemudian setelah memecahkan masalah, manusia kemudian juga membuat sebuah nilai, aturan bagaimana supaya masyarakat yang ada di sekitarnya bisa teratur. Itulah kenapa dalam bahasa sansekerta muncul istilah “a” yang berarti tidak dan “gamma” yang berarti kacau. Hal ini muncul sebagai sebuah ekspresi bahwa manusia pada zaman itu sedang mengalami sebuah kekacauan. Sehingga kemudian agar mereka tidak kacau, maka mereka harus diikat dalam satu bentuk nilai yang kemudian disebut sebagai “a” dan “gamma” yang berarti tidak kacau. Berdasarkan istilah inilah dapat dirunut bahwa ternyata agama muncul sebagai bentuk ekspresi supaya manusia tidak kacau. Untuk itulah, Durkheim dalam penjelasan secara antropologis mengatakan bahwa agama sebagai sebuah ikatan sosial manusia supaya dia merasa bahwa dirinya tidak kacau lagi. Dalam artian, agama sebagai kontrol sosial.
Hubungan antara Tuhan-Manusia-Alam harus berjalan secara harmoni agar keseimbangan itu tetap terjaga. Tuhan-Manusia-Alam adalah sumber yang tidak dapat dupisahkan. Agama muncul sebagai sesuatu yang kuat. Kembali lagi pada konsepsi tentang Tuhan-Manusia-Alam. Tuhan dalam pengertian sebagai kekuatan yang luar biasa, yang melampaui dari kekuatan manusia. Kemudian manusia itu harus menghubungkan dirinya dengan Tuhan, karena manusia itu tidak memiliki kekuatan untuk menghadapi setiap masalah. Maka dia harus mengakui keberadaan Tuhan. Untuk melaksanakan hal itu, maka manusia juga harus menghubungkan dirinya dengan kondisi yang ada di sekitarnya, baik itu lingkungan sosial ataupun lingkungan alamnya. 

Gambar 3. Pemberian Materi oleh Narasumber 

Setelah pemberian materi dari Bapak Arief, maka sesi selanjutnya adalah tanya jawab. Peserta begitu antusias menyimak materi-materi yang telah disampaikan yang dibuktikan dengan banyaknya orang yang bertanya.
Bagaimana agama dalam konteks perkotaan yang kini mulai berkembang pemahaman ateis  (tidak percaya pada agama)?: Agama pada saat ini menjadi sebuah kebudayaan manusia. Hal ini bukan kemudian ingin menyatakan bahwa agama adalah hasil kebudayaan manusia. Kita harus menganggap bahwa ketika agama itu diwahyukan pada manusia dan kemudian dijalankan oleh manusia, maka berarti agama menjadi produk manusia. Ketika manusia menerima pemahaman/pemikiran baik itu dari Tuhan atau dari manusia itu sendiri. kemudian dijalankan oleh manusia dan kemudian diinterkasikan antar manusia menjadi suatu keyakinan, maka hal ini adalah sebuah produk kebudayaan, ini adalah sebuah produk manusia. Karena hal ini menjadi produk manusia, maka siapapun boleh menginterpretasikan suatu kepercayaan. Maka untuk itulah, muncul orang-orang yang menolak akan interpretasi agama. Penolakan-penolakan ini ada yang menyebutnya sebagai anti agama, ada yang menyebutnya sebagai ateisme. Ateisme sebenarnya apabila dilihat adalah sebuah upaya manusia melakukan penolakan terhadap interpretasi tentang Tuhan yang dikonsepsikan orang lain. Itulah yang kemudian memuncul apa yang disebut dengan ateisme.
Bagaimana jika ada pernyataan “saya percaya Tuhan, akan tetapi saya tidak percaya agama?: Hal seperti ini mungkin saja terjadi, karena hal ini sekali lagi adalah problem interpretasi manusia. Ketika ia menganggap bahwa interpretasi mengenai agama dianggap tidak lagi sesuai dengan kondisi masyakat di sekitarnya maka dia tidak lagi percaya kepada agama. Kembali lagi kepada pernyataan bahwa agama adalah produk manusia, yang siapa pun bebas menginterpretasikannya. Sehingga ada manusia yang setuju dengan interpretasi tersebut, ada pula yang tidak setuju. Apabila interpretasi dominan muncul di sekitar kita, dan kita tidak mempercayai interpretasi tadi, maka di situ lah kemudian memunculkan “saya tidak percaya agama, tapi saya tidak percaya Tuhan. Karena saya masih meyakini bahwa kekuatan luar biasa masih mempengaruhi diri saya”. Itulah mengapa ada orang yang mempercayai keberadaan Tuhan akan tetapi tidak percaya agama. Hal itu tidak lain adalah permasalah perbedaan interpretasi.
Agama secara harfiah berarti tidak kacau, akan tetapi mengapa banyak orang yang menyebabkan kekacauan dengan mengatasnamakan agama?: Hal ini sekali lagi adalah permasalahan interpretasi. Ketika seseorang menginterpretasikan sesuatu. Lalu kemudian dia kokoh dengan interpretasi tersebut, akhirnya dia beranggapan bahwa interpretasi nya adalah yang paling benar. Maka dengan demikian, kepercayaan yang tidak sesuai dengan interpretasinya akan dianggap sebagai sesuatu yang salah. Hal ini sebenarnya adalah permasalahan manusia dalam mengkategorikan mana yang benar dan mana yang salah. Sehingga  perbedaan inilah yang kemudian berbagai pihak menyakiti, menindas yang dianggapnya salah. Sehingga sering kali terjadi kekerasan atas nama agama.

Setelah semua pertanyaan dijawab, maka acara selanjutnya adalah pemeberian cinderamata kepada moderator dan kepada dua pemateri. Pemberian cinderamata diberikan oleh salah satu dosen antropologi Bapak Ary Budiyanto, ketua himpunan antropologi Lina Agnesia, dan ketua pelaksana Alfan Jamil. Kemudian acara ditutup dengan pembacaan hamdalah dan penampilan dari etnicholic.
 

Gambar 4. Penampilan dari Etnicholic
 
 
 
Gambar 5. Pemberian Cinderamata Kepada Moderator dan Dua Pemateri
      

Tidak ada komentar:

Posting Komentar