Rabu, 19 April 2017

Peringatan Koferensi Asia Afrika

Menolak Lupa Semangat Konferensi Asia Afrika 1955
Rizqi Gilang Pratama


“Menolak lupa” itulah kalimat yang sering kita baca atau dengarkan dari berbagai fenomena besar yang dikenang dan diingat masyarakat Indonesia. Melihat hal itu kami saat ini akan menolak untuk lupa bagaimana prestasi Indonesia dalam ranah diplomasi luar negeri saat menjadi penyelenggara Konferensi Asia Afrika. Prestasi tersebut sangat berdampak untuk Indonesia kini.
            Tepat tanggal 18 April adalah peringatan 62 tahun Konferensi Asia Afrika yang dilaksanakan di Bandung 1955. Keadaan dunia  kala itu diwarnai dengan perang dingin antara Blok Barat dengan ide kapitalis yang dipimpin Amerika Serikat dan Blok Timur dengan ide sosialis yang dipimpin oleh Uni Soviet. Beberapa kepala Negara dari Asia Afrika yang menyadari akan hal itu berusaha untuk tidak masuk dalam perang dingin tersebut dan lebih memilih untuk membangun Negara mereka masing-masing berdasarkan prinsip-prinsip kemerdekaan, keadilan dan perdamaian. Konferensi Asia Afrika kemudian hadir sebagai wadah bagi Negara-negara Asia Afrika dalam grakan-gerakan pembebasan nasional untuk memperteguh kesadaran beberapa kepala Negara di Asia dan Afrika untuk tidak memihak ke dua blok yang sedang berseteru tersebut. Konferensi Asia Afrika digagas atas pemikiran bersama antara Indonesia yang diwakili oleh Ali Sastroamidjojo, Myanmar yang saat itu masih bernama Burma diwakili oleh U Nu, Srilangka diwakili oleh Sir John Kotelawala, Pakistan diwakili oleh Mohammad Ali Bogra, dan India diwakili oleh Jawaharlal Nehru. Pelaksanaan KAA tersebut dihadiri oleh 29 Diplomasi Negara yang terdiri dari 23 Diplomasi Negara dari Asia dan 6 Diplomasi Negara dari Afrika.


Hasil dari Konferensi Asia Afrika 1955 di Bandung itu dikenal dengan Dasasila Bandung, yang berbunyi:
  1. Menghormati hak-hak dasar manusia dan tujuan-tujuan serta asas-asas yang termuat di dalam piagam PBB (Perserikatan Bangsa-Bangsa)
  2. Menghormati kedaulatan dan integritas teritorial semua bangsa
  3. Mengakui persamaan semua suku bangsa dan persamaan semua bangsa, besar maupun kecil
  4. Tidak melakukan intervensi atau campur tangan dalam soalan-soalan dalam negeri negara lain
  5. Menghormati hak-hak setiap bangsa untuk mempertahankan diri secara sendirian ataupun kolektif yang sesuai dengan Piagam PBB
  6. Tidak menggunakan peraturan-peraturan dari pertahanan kolektif untuk bertindak bagi kepentingan khusus dari salah satu negara besar dan tidak melakukannya terhadap negara lain
  7. Tidak melakukan tindakan-tindakan ataupun ancaman agresi maupun penggunaan kekerasan terhadap integritas wilayah maupunkemerdekaan politik suatu negara
  8. Menyelesaikan segala perselisihan internasional dengan jalan damai, seperti perundingan, persetujuan, arbitrasi (penyelesaian masalah hukum) , ataupun cara damai lainnya, menurut pilihan pihak-pihak yang bersangkutan sesuai dengan Piagam PBB
  9. Memajukan kepentingan bersama dan kerjasama
  10. Menghormati hukum dan kewajiban–kewajiban internasional
            Sekarang mari kita ingat dan berfikir bersama tentang adakah dampak dari KAA Bandung 1955 dengan keadaan Indonesia saat ini? Berfikir dengan persfektif yang luas, karena jika kita mempersempit cakupan berfikir kita maka hal ini tidak akan kita temukan. Benar, KAA saat itu sepakat untuk tidak memihak blok Barat maupun blok Timur. Namun bagaimana dengan saat ini? Memang Indonesia saat ini terkesan tidak memihak blok Barat maupun blok Timur, ditambah perseteruan ke dua blok pun sudah tidak setegang masanya, justru hari ini bisa dibilang hampir hilang ketegangan diantara ke dua blok yang berseteru tersebut. Meski demikian Indonesia sebenarnya telah terlena dengan ide-ide kapitalis dari blok Barat. Hal ini sangat terlihat jelas pada kalangan remaja terutama mahasiswa di kampus. Berbagai ide dan konsep kapitalis yang melekat pada kebutuhan mahasiswa telah mengaburkan pandangan mahasiswa akan nilai guna dan tanda yang mereka konsumsi. Mahasiswa cenderung membeli barang ataupun makanan dengan mengutamakan nilai gengsi atau nilai tanda. Kebanyakan restaurant atau tempat makan di Indonesia yang digandrungi remaja adalah tempat-tempat makan asal Amerika Serikat yang beridekan kapitalis. Konsep seperti ini juga memunculkan pertanyaan bagi saya, sebab mahasiswa sebenarnya hanya korban, dan pertanyaan itu adalah dimana semangat KAA Bandung 1955 untuk pemerintah Indonesia saat ini? Mengapa banyak rumah makan dan perusahaan beridekan kapitalis masuk ke Indonesia? Sudah terbuaikah pemimpin Bangsa ini dengan semua simulasi yang dijanjikan kapitalis, atau memang ini tujuan rezim pemerintah orde baru kala itu menumpas dan mengkambing hitamkan PKI yang menganut ide sosialis untuk perkembangan nilai kapitalis di Indonesia saat ini?
            Lewat tulisan ini saya mengajak semua masyarakat Indonesia, khususnya mahasiswa untuk ingat dan tahu semangat KAA 1955 akan adanya ideologi dunia ketiga. Ideologi yang mendorong adanya emansipasi, independensi, serta kemandirian negera-negara dunia ketiga khusunya Indonesia. Mari kobarkan semangat KAA 1955 itu pada perayaan KAA ke 62 tahun 2017 ini untuk terus mendukung Indonesia menjadi Negara yang mandiri. Caranya mudah, bagi saya cukup dengan membeli produk-produk baik makanan maupun barang yang asli Indonesia agar menciptakan semangat berkarya bagi produsen-produsen di Indonesia untuk menciptakan kemandirian bagi Indonesia dan produktifkan diri kita dengan hal-hal positif untuk Indonesia lebih baik.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar