Kamis, 25 Januari 2018

Hari Gizi dan Makanan

Menelusuri Masalah Gizi di Indonesia

Permasalahan gizi di Indonesia termasuk permasalahan yang kurang populer diperbincangkan, baik di kalangan masyarakat maupun kalangan media. Padahal, apabila kita telusuri, permasalahan ini termasuk permasalahan yang patut untuk didiskusikan. Gizi adalah, zat yang dibutuhkan oleh tubuh dalam pertumbuhan, perkembangan, pemeliharaan dan juga memperbaiki jaringan tubuh. Tubuh sangat memerlukan gizi yang cukup, tetapi kenyataannya makanan yang dikonsumsi (dimakan) bisa dikatakan kurang dari kebutuhan dan inilah yang disebut sebagai masalah gizi.

Masalah gizi  yaitu gangguan kesehatan dan kesejahteraan seseorang, kelompok orang atau masyarakat sebagai akibat adanya ketidakseimbangan antara asupan (intake) dengan kebutuhan tubuh akan makanan dan pengaruh interaksi penyakit (infeksi). Ketidakseimbangan atau gangguan dari masalah gizi bisa karena kekurangan asupan bisa juga karena kelebihan asupan. Berbagai penelitian dan pemantauan pada konsumsi gizi masyarakat menunjukkan bahwa ketidakseimbangan atau  gangguan  yang  muncul  dapat mengakibatkan menurunnya pertahanan tubuh terhadap penyakit (imunitas) .
Berdasarkan Global Nutrition Report 2014, Indonesia termasuk 17 negara yang memiliki masalah gizi serius. Data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2013 mencatat bahwa  18,8 % balita usia 0-5, 9 bulan mengalami kurang gizi, 29% mengalami stunting akibat kurang gizi menahun. Sementara di sisi lain, terdapat 1,6% balita yang mengalami obesitas. Riset ini, dapat dikatakan bahwa ada banyak anak berusia di bawah lima tahun mengalami permasalahan gizi ganda (double burden); gizi lebih dan kurang, beberapa anak mengalami obesitas karena asupan gizi yang berlebihan, dan beberapa lainnya mengalami stunting atau tubuh pendek, kurus, hingga gizi buruk.

Badan Pusat Statistik (BPS) memang mengklaim jumlah penduduk miskin di Indonesia tahun 2017 sebesar 10,6 persen. Akan tetapi faktanya, jumlah penderita beberapa masalah gizi justru berada di atas angka 10 persen. Oleh karena itu, banyak juga orang yang tidak miskin atau punya daya beli, tetapi menderita masalah gizi. Menurut Dr. Toto Sudargo, SKM., M.Kes., seorang Ahli Gizi dari Universitas Gadjah Mada, mengatakan bahwa gizi kurang ini banyak dijumpai di sebagian besar Sulawesi, Kalimantan, NTB, NTT, Sumatera Utara, Aceh, dan Maluku. Kejadian gizi kurang terjadi tidak hanya akibat kurangnya asupan gizi saat balita. Namun, juga dikarenakan menderita penyakit infeksi seperti ISPA dan diare, bayi berat lahir rendah, tidak diberikan asi secara eksklusif, serta pola asuh salah.

Toto menegaskan bahwa peran keluarga sangat diperlukan dalam meningkatkan perbaikan gizi dan menekan gizi lebih di Indonesia. Keluarga memiliki pengaruh yang cukup besar persoalan gizi setiap anggota keluarganya. Kita perlu memerhatikan setiap asupan gizi generasi penerus kita untuk menghindari meningkatnya permasalahan gizi di Indonesia yang cukup tinggi ini. Prinsip gizi seimbang adalah dengan membiasakan pola konsumsi beragam secara seimbang sesuai dengan kebutuhan masing-masing anggota keluarga. Selain itu juga, membiasakan perilaku hidup sehat diikuti dengan rutin melakukan aktivitas fisik dan memantau berta badan secara teratur.

Mari lebih memperhatikan asupan gizi kita.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar