Jumat, 19 September 2014


Luaiyibni Fatimatus Zuhra
135110801111014
Antropologi Budaya
Fakultas Ilmu Budaya
Universitas Brawijaya

STUDI FOLKLORE DALAM SASTRA DAN BUDAYA
ALAN DUNDES DALAM BUKUNYA “MEANING OF FOLKLORE”


Dundes dalam bukunya menekankan teks dalam konteks atau struktur naratif dalam folklore yang mempunyai makna tersembunyi. Metode dalam folk setidaknya dapat mengidentifikasi dan menginterpretasi sesuatu yang belum jelas didalam folklore. Tujuan Dundes dalam tulisannya adalah untuk menjelaskan secra gamblang bahwa ada banyak kemungkinan makna yang tersembunyi di balik sebuah folklore entah itu berupa sebuah aturan atau pelanggaran yang tersirat di dalamnya.
Dundes mengatakan dalam tulisannnya bahwa dalam mempelajari cerita rakyat dalam literatur dan budaya hampir sama. Ada dua langkah dasar dalam studi cerita rakyat dalam literatur dan budaya. Yang pertama adalah obyektif dan empiris dan yang kedua adalah subyektif dan spekulatif. Dalam mengidentifikasi cerita rakyat adalah mencari persamaan sedangkan interpretasi adalah mencari perbedaan cerita rakyat yang satu dengan cerita rakyat yang lain.
Banyaknya studi tentang folklore khususnya cerita rakyat membuat beberapa ahli tidak mengupayakan adanya evaluasi lebih dalam bagaimana unsur-unsur dalam cerita rakyat dapat berfungsi dalam karya sastra tertentu. Hal ini menyebabkan adanya pemahaman teks saja pada folklore nammun tidak mendalami konteks didalamnya. Contohnya dalam cerita rakyat ulysses dimana banyak makna yang masih dapat dipetik didalamnya namun tidak terlalu diperhatikan dan luput dari identifikasi para ahli folklore. Sedangkan dalam penafsiran folklore dalam budaya adalah interpretasi bagaimana folklore dapat menjelaskan perbedaan masa lalu dengan masa kini namun  dapat juga  disimpulkan bahwa interpretasi ahli folklore tidak ada gunanya jika tidak dapat mengaitkan hubungan antara folklore itu sendiri dengan sastra dan budaya di dalamnya.


STRUKTURALISME DALAM BUDAYA PETIK LAUT PADA MASYARAKAT PESISIR


Petik laut pada masyarakat pesisir madura atau masyarakat tapal kuda biasanya dilakukan pada bulan oktober setiap tahunnya dan bisa berlangsung selama satu hari satu malam bahkan kadang sampai tiga hari tiga malam. Acara ini dilakukan dengan upacara larung sesaji ke laut dengan rasa syukur terhadap Tuhan Yang Maha Esa atas rejeki yang melimpah pada satu tahun sebelumnya.
Kekompakan dan kebersamaan para warga  tercermin dalam acara ini, para warga berkumpul dan merayakan suatu acara dengan meriah tanpa adanya perslisihan dan pertikaian meskipun dalam acara ini terdapat beberapa perlombaan namun perlombaan ini tidak sampai menimbulkan sebuah persaingan yang tidak sehat dan kecurangan diantara para peserta lomba. Wisata kuliner hasil laut dan kerajinan tangan dari hasil laut seperti kerang-kerangan juga banyak dijual pada acara petik laut.
Sesaji yang dilarung meliputi alat rumah tangga, peralatan dapur, beberapa potong pakaian dan sarung, dan yang terakhir adalah kepala sapi yang merupakan sesaji paling utama dan paling wajib. Semua sesaji ini diletakkan pada wadah berbentuk menyerupai perahu yang dibuat dengan menggunakan batang pisang dan dihias menggunakan kain warna warni atau bunga-bungaan yang dirangkai sedemikian rupa sehingga terlihat lebih menarik.
Sesaji yang telah siap dengan semua kelengkapan dan hiasannya kemudian “diselameti” dengan doa-doa dari para tetuah desa atau jika di desa yang mayoritas muslim biasannya diselameti dengan pembacaan ayat-ayat Al-Quran dan pembacaan doa-doa dari ustad atau kiai. Setelah ritual pembacaan doa selesai acara larung sesaji siap dilaksanakan. Sebelum dilarung biasanya sesaji diarak oleh perahu-perahu hias yang mengikuti lomba perahu hias mengelilingi beberapa gugusan pantai yang jaraknya hanya satu kilo dari tempat awal sesaji diarak. Sesaji diarak dengan ditarik menggunakan perahu nelayan yang paling besar yang biasa disebut sebagai “salerek” pada masyarakat madura. Setelah arak-arakan telah dianggap cukup dengan mengitari gugusan pantai selama dua atau tiga kali putaran maka sesaji siap untuk dilarung ke laut dengan meriah dan teriakan kebahagiaan para masyarakat yang ikut dalam acara larung sesaji dengan menaiki perahu-perahu hias para nelayan.
Dari folklore pada masyarakat pesisir ini dapat terlihat jelas struktur didalamnya dari adanya sesaji, hiasan pada sesaji dan perahu nelayan, doa-doa, acara larung sesaji, dan antusias para warga atas acara tersebut dapat terlihat jelas struktur yang tersusun di dalamnya seperti adanya sebuah alur yang berurutan dari acara pertama hingga acara selanjutnya, kejelasan tempat acara, adanya waktu yang ditentukan setiap tahun, serta adanya tujuan dan fungsi dalam acara petik laut ini.  

Daftar pustaka


[1]     Alan Dundes (Meaning of Folklore The Analytical)
[2]     Martha C Sims Martine Stephens (Living Folklore) 
[3]     James Danandjaja (Folklore Indonesia “ilmu gosip, dongeng, dan lain-lain”)


















PETA  KONSEP F

Tidak ada komentar:

Posting Komentar