Minggu, 02 November 2014

Kegiatan layar tancap ini merupakan salah satu agendaHimantarayang dilaksanakan pada  Jumat, 24 Oktober 2014. Layar tancap inimenyuguhkan sebuah film dokumenter yang berjudul “Tragedi Jakarta 1998”. Film yang diproduksi oleh Jakarta Media Syndication Produser ini mengisahkan tentang perjuangan mahasiswa di era reformasi tahun 1998 yang tergambar pada peristiwa Trisakti dan Semanggi ribuan mahasiswa bersatu padu,penuh totalitas perjuangan untuk menuntut hak-hak dan keadilan bagi seluruh rakyat indonesia meskipun  mereka harus bertumpah darah akibat tekanan dari kekuatan  militer di negeri sendiri. Acara dimulai pada pukul 18.00 dan berakhir pada pukul 20.30 di arena Greengrass FIB dengan konsep lesehan sederhana. Bukan hanya untuk kerabat Antropologi saja acara ini dibuka untuk umum sehingga antusias penonton tidak hanya datang dari kerabat antropologi  tetapi juga dari prodi yang lain seperti Sastra Jepang, Sastra Inggris dan sebagainya. Tak hanya sekedar nobar film dokumenter saja  kegiatan ini juga dimeriahkan oleh antropologi akustik dan juga mengundang teman-teman dari sociokoclogi yang membawakan lagu-lagu andalan mereka yang cukup gokil yang berjudul “jajanan tahlilan dan  kimcil”.
Kemudian dilanjutkan dengan acara diskusi di awali dengan  pemantik diskusi utama yang  disampaikan oleh Ibu Edlin Dahniar Al-Fath M.A yang mengemukakan  keadaan kekacauan seperti Tragedi Jakarta pada tahun 1998  pernah dialami oleh Indonesia yang pada masa itu kondisi ini juga dirasakan oleh rakyat indonesia dengan situasi yang cukup meneganegangkan terjadi demontsrasi secara besar-besaran, pemberontakan yang dilakukan oleh para mahasiswa dengan penuh totalisas perjuangan bertumpah darah untuk memperjuangkan keadilan rakyat.
Pemicu permasalahan ini terjadi karena negara Indonesia yang seharusnya dimiliki oleh siapapun, berhak memiliki apa yang ada di negara ini  namun pada masa itu negara hanya dimiliki oleh kelompok-kelompok tertentu saja.Film ini juga merepresentasikan siapa militer pada masa itu.Apa yang terjadi jika mahasiswa yang tanpa senjata di lawan dengan tangker, senjata militer tentu saja akan kalah.  Kita sebagai pemilik Indonesia tentu tak bisa tinggal diam melihat negara kita dijajah oleh kepentingan kelompok tersebut.Hal inilah yang menimbulkan perlawanan dari berbagai pihak. Film ini juga menjadi ibrah bagi kita dahulu para mahasiswa berkumpul bersama menyatukan visi mencapai tujuan bersama untuk mencapai keadilan bersama bagi seluruh rakyat penuh totalitas perjuangan sampai bertumpah darah, berbeda dengan mahasiswa pada masa sekarang yang gemar  berkumpul bersama  namun hanya untuk nonton bareng acara hiburan, bersorak sorai untuk kesenangan sendiri tanpa berkontribusi pada masyarakat umum. Padahal  perjuangan mereka yang gugur dalam tragedi tersebut juga belum selesai, mahasiswa sekarang pun juga seharusnya meneruskan perjuangan pemikiran mereka karena masih banyak persoalan di negara indonesia yang memerlukan peran mahasiswa. Seperti yang diketahui presiden indonesia sendiri masih baru yang mencanangkan adanya revolusi mental entah prakteknya seperti apa masih tanda tanya. Namun setidaknya program ini dapat diwujudkan dan dimulai dari diri kita sendiri. Memulai sesuatu kebaikan dari diri sendiri meskipun dari sesuatu yang kecil itu akan lebih memiliki efek yang bagus sekalipun harus ditempuh dalam waktu yang lama dan tidak  berpikiran ingin membuat peraturan atau menyuruh orang lain melakukan sesuatu sedangkan diri sendiri tidak mempraktikannya. Dilanjutkan dengan tambahan dari pak Roikan S.Sos menurut beliau dahulu semasa kuliah sekitar tahun 2003 film ini menjadi salah satu tontonan yang wajib bagi mahasiswa baru termasuk beliau tujuannya agar para mahasiswa juga ikut mengetahui, mengambil pelajaran bagaimana perjuangan mahasiswa pada masa lalu untuk memperjuangkan Indonesia. Puncak kekesalan mahasiswa masa itu terjadi pada target 27 Juli1996 adanya kambing hitam Partai Rakyat demokrasi yang salah satu tokohnya Budiman Sutjatmiko yang disebutkan dalam film tersebut dan SMID (Solidaritas Mahasiswa Indonesia Untuk Demokrasi) yang dianggap sebagai penjelmaan PKIoleh para militer. Hal ini menggambarkan jika pada masa dahulu para mahasiswa dapat berjuang dengan seperti itu, tugas mahasiswa sekarang tidak sekedar bersenang-senang saja  tetapi belajar dan bagaiman bersikap jika  perjuangan dahulu dengan karena dengan cara elegan tidak bisa maka dilakukan dengan cara arogan  sedangkan mahasiswa sekarang hendaknya dilakukan dengan cara yang lebih elegan  dengan menjadi mahasiswa yang baik.
 Dari  para pemantik diskusi tersebut munculah beberapa komentar dan pertanyaan  dari para penonton sebagai berikut salah satuinya dari Krisna Bayu Samudra dari (Sastra Jepang)  yang menyatakan bahwa Film ini mengingatkan dia pada waktu menjadi maba setelah menonton film ini dia melakukan  turun aksi bbm di balai kota  yang hasilnya  dari demo tersebut bbm juga tidak jadi naik . Namun terhadap persoalan militer tadi hendaknya berpikiran objektif  karena para TNI,Brimop dan Sabara  sebenarnya tidak sampai hati  dan tidak tega memukul mereka, tetapi tentara  itu iwan seperti seperti belati . Jika tugas utama menjaga  komando tanpa tujuan tentu akan mudah dipukul oleh negara lain para pemberontak dan terorisme. Komando itu sebagai sebuah intruksi dan bekal berperan untuk mempertahankan negara.  Hal ini juga menjadi petikan bagi mahasiswa pada masa sekarang, terkadang mahasiswa masa sekarang  yang ingin melakukan demo jhanya sekedar ikut  demo  tanpa dasar, tanpa bekal  dan tujuan yang jelas. Yang biasanya tujuannya hanya untuk kelihatan eksis atau untuk dilihat teman saja. Tentu hal ini sangat disayangkan sekali karena  fungsi demontrasi juga bukan sekedar seperti itu. Selain itu Masa sekrang tentu  berbeda dengan masa dahulu mahasiswa harus melakukan demo yang frontal untuk memperjuang hak rakyat karena pada masa itu negosiasi jalan damai sudah tidak dapat ditemput sehingga harus melakukan jalan yang frontal. Pada masa saat ini tentu tidak bisa langsung meniru aksi seperti itu melainkan  peristiwa tersebut  dapat menjadi teladan bagi mahasiswa masa sekrang  seperti bagaimana semangat  perjuangan mereka, salah satunya dengan cara berprestasi di masa sekarang apalagi dengan kecanggihan teknologi dan komunikasi masa sekarang  seperti android, internet , sudah seharusnya  dengan kemudah-mudahan ini mahasiswa sekarang dapat memberikan kontribusi dan meneruskan para mahasiswa masa dahulu untuk memperjuangkan keadilan rakyat bagi seluruh rakyat Indonesia.Secara langsung hal ini mendapat respon dari pemantik diskusi utama yang menyatakan bahwa Satu komando tentara memangberfungsi mempertahankan  negara namun yang menjadi persoalan bagaimana yang terjadi ketika warga sipil dilawan dengan hal-hal seperti itu dianggap sebagai musuh negara. Mahasiswa mempertahankn apa sudah sejak lama menjadi hak warga indonesia, apa yang terjadi jika warga sipil tidak bersenjata dengan senjata dan ketika mereka kalah, banyak korban berjatuhan bersorak sorai dengan bangganya seolah sebagai musuh negara. Apa yang terjadi pada militer saat itu? Jika soal kemudahan fasilitas dan teknologi yang dapat diakses oleh mahasiswa sekarang terkadang juga menjadikan mahasiswa tersebut lebih  pintar namun juga terkadang menjadikan mahasiswa tersebut  orang menjadi bodoh salah satunya plagiat, copy paste tugas-tugas dari internet dan sebagainya. Oleh karena itu jika dahulu mereka dapat berjuang dengan cara seperti itu maka saat ini dapat dilakukan dengan cara lain dengan menjadikan diri menjadi berkualitas.
Hal ini juga mengundang komentar dan pertanyaan dari kerabat Fadhilatul Azhar (Antropologi 2012)  yang menyatakan  bahwa demokrasi yang ia pahami sekarang tidak hanya sekedar dari rakyat oleh rakyat untuk rakyat tetapi demokrasi juga sebagai proses dengan kerja keras dan bahkan berdarah-darah demokrasi. Namun bagaimana dengan demokrasi sekarang  sepertinya rezim orba dibentuk kembali seperti  pilkada sudah tidak lagi dipilih secara langsung dan kabarnya juga presiden juga tidak dilakukan lagi secara langsung?Bagaimana tanggapan ibu dan bapak serta bagaimana kita menanggapinya? Sedangkan tokoh reformasi sendiri seperti Amin Rais juga mendukung pilkada tidak langsung ini?
Tanggapan dari pemateri utama menyatakan Jika merujuk pada UUD, inti dari demokrasi itu adalah musyawarah, yang mereka garis bawahi adalah musyawarah. Salah satunya dalam pemilihan kepala daerah  yang ditentukan melalui musyawarah ditingkat DPR. Ide ini sebenarnya bagus asalkanpemilihan kepala daerah tersebut berdasarkan transparan dan sudah memenuhi kualifikasi standar yang cocok dan transparan untuk menjabat sebagai kepala daerah.Karena ketukan palu sudah diketuk dan upaya-upaya dari pihak yang tidak setuju juga tidak direspon, sekarang kita hanya bisa menunggu hasil dari pemilihan tersebut jika tidak sesuai dengan amanah rakyat tentu harus dilawan.
            Hal ini kemudian mengundang komentar lain dari  Andika (Antropologi 2012) Bahwa musuh  kita pada masa itu memang  sangat jelas yaitu kekuasaan orba  yang langgeng selama 32 tahun negarawan  yang memikirkan kekuasaan menindas  namun pasca  reformasi  sebenarnya  kita memiliki  musuh bersama  yang terkadang  masih bersifat  abstrak,  selain   pasca soeharto juga keluar desentera lisasi otonomi daerah yang membuat masalah  semakin bercabang semakin kompleks dengan model seperti itu apa dengan pemilihan  hanya dengan pemilihan  saja presiden cukup?Tanggapan dari pemateri menyatakan bahwa Jika permasalah yang dikatakan adalah Desentralisasi  jelas kepala daerah di masing-masung wilayah yang menjadi persoalan, tetapi apakah benar kita sudah bisa melawan  dan apakah hanya dengan  pemilihan presiden cukup, tentu  tidak percuma  saja jika presiden baik tetapi anaknya tidak baik , sedangkan untuk solusi masalahnya sendiri  juga belum terlihat maka  yang bisa dilakukan adalah meluruskan mengawasi  persoalan  yang menyimpang undang-undang. Namun terkadang  kebijakan yang akan dilakukan  pemerintah apa yang  akan dilakukan, tata kota seperti apa kebijakan terhadap pendidikan  seperti  terkadang  kita sendiri  tidak  akses  secara total.
Namun hal ini kembali mendapat sanggahan dari Andika (Antropologi 2011)  yang menyatakan jika bentuk kekuasaannya  yang bersifat Topdown jika ada   yang  salah dari atas dapat  dikoreksi dari bawah. Seperti  kekuasaan  pada masa orba yang  berjalan 32 tahun  kekuasaan topdown yang akhirnya menjadikan  rakyat semakin down kemudian  kegagalan ini dibaca oleh  Pak Jokowi sehingga mencoba mengganti kekuasaan dengan model  kekuasaan bottom  up tetapi  bagaimana  dengan  sistem bottom up  yang ternyata   rakyat nya  sendiri  juga membuat  kebobrokan misalkan  ada program   ketahanan  pangan  ada perluasan  lahan   tetapi  malah dimonopoli oleh  juragan  dengan  menanam  tanaman komersil  dan tidak lagi memikirkan  ketahanan pangan?
Menanggapi pertanyaan tersebut pemantik diskusi utama menyatakan bahwa pada intinya semua kembali kepada diri kita sendiri. Oleh karena itu  revolusi mental itu  botom up dari  kita bagaimana  mental kita bisa berubah.kita  menjalankan posisi dengan baik maka akan terkumpul dengan  menjadi   negara juga baik. Jika kita sendiri  pesimis  tentu tidak akan  ada ujungnya.  Revolusi mental sendiri paling cepat  hasilnya 25 tahun. Kalau tidak dimulai dari sekarang menata pikiran kita  sebagai orang yang baik kapan akan tercapai. Barlah  generasi tua itu  habis dengan sendirinya, Jalan kita masih panjang  maka mulai dari masing-masing  kita menjalankan agar dapat  perannya dengan  baik apapun itu peran  nanti akan terkumpul menjadi orang baik, jika negara ini semua orangnya baik tentu akan menjadi  negara  yang baik.“Mulailah melakukan perubahan kebaikan dari hal terkecil yang ada dalam diri mu sendiri”, inilah pesan penting yang dapat disampaikan pada layar tancap kali ini. Semoga bermanfaat dan Sampai jumpa di edisi selanjutnya kerabat...^_^
            

Tidak ada komentar:

Posting Komentar