Senin, 06 April 2015

Bedah Buku ''Perbudakan Seksual: Perbandingan antara Masa Fasisme Jepang dan Neofasis Orde Baru'' karya Anna Mariana

             Bedah buku antropologi adalah acara diskusi buku yang dilaksanakan pada 30 maret 2015 yang juga diadakan acara bazar buku dari penerbit Marjin Kiri. Bedah buku dengan judul Perbudakan Seksual: Perbandingan antara Masa Fasisme Jepang dan Neofasis Orde Baru dengan Ibu Edlin Dahniar sebagai pembajas 1, Ibu Grace Leksana sebagai pembahas , dan Ibu Anna Mariana sebagai pembahas 3 yang juga sekaligus penulis dari buku Perbudakan Seksual: Perbandingan antara Masa Fasisme Jepang dan Neofasis Orde Baru serta Bapak Manggala Ismanto sebagai moderator. Bedah buku ini dibuka dengan sedikit ulasan mengenai isi buku yang dipaparkan oleh penulis buku sendiri, yaitu Ibu Anna Mariana.

            Ibu Anna Mariana memaparkan bagaimana politik seksual pada masa fasisme Jepang memaksa para wanita mau tidak mau harus menjadi pemuas para tentara Jepang yang lebih dikenal dengan Jugun ianfu. Polemik yang dihadapi para wanita ketika masa pendudukan Jepang dan terjadi kembali pada masa orde baru akibat dari peran pemerintah yang secara tidak langsung menjadikan para wanita sebagai budak seksual dalam politik mereka. Sama halnya denga Ibu Anna, Ibu Edlin Dahniar juga turut mengupas sisi gelap hingga sisi baik yang dapat kita pelajari dan bagaimana peran pemerintah serta penegak hukum yang seharusnya menjadi pelindung masyarakat malah memanfaatkan kuasanya untuk memuaskan hasrat mereka. Politik seksual yang terjadi semakin menyudutkan kebebasan wanita pada masa pendudukan Jepang dan orde baru.
            Tidak seperti Ibu Anna dan Ibu Edlin, Ibu Grace Leksana lebih mengupas bagaimana status wanita dan bagaimana perlakuan wanita pada masa itu. Perebutan hak yang secara tidak langsung telah diambil dan harga diri yang mungkin sudah tidak merasa dimiliki membuat nilai wanita menjadi rendah dan tidak berarti. Perlakuan yang tidak pantas membawa wanita menjadi sebuah barang yang dapat dinikmati tanpa ada penghargaan sedikitpun.


            Diskusi yang berlangsung lebih membahas bagaimana peran wanita seharusya diperlakukan dan bagaimana pola pikir masyarakat yang seharusnya lebih berpendidikan dan sosialis dalam memandang permasalahan perbudakan seksual tersebut. Perbudakan seksual yang terus berlanjut hingga orde baru bahkan hingga saat ini memang bukanlah sebuah pengaruh dari sejarah pendudukan Jepang karena seperti pernyataan Ibu Edlin bahwa kebutuhan seksual merupakan salah satu kebutuhan penting selayaknya makanan bagi manusia. Sehingga bukan hal yang tabu jika perbudakan seksual akibat politik seksual memang sering terjadi. Pola pikir masyarakat yang hanya memandang wanita dari segi tubuh dan tidak berharga karena dianggap lemah membuat wanita lebih sering untuk menjadi korban dari keegoisan kekuasaan. 

1 komentar: