Minggu, 26 April 2015

Dialog Etnografi KORUPSI DALAM KACAMATA ETNOGRAFI ''Relevansi Korupsi Saat Ini Dengan Konsep The Gift Marcel Mauss"



Acara seminar bertema korupsi dalam kacamata etnografi dengan kajian relevansi korupsi saat ini mengusung konsep the gift Marcel Mauss acara . acara dilaksanakan dengan pemateri bapak Danny Sutopo M.Si dan seorang moderator yaitu Andika Nur Perkasa pada tanggal 11 April 2015. Para peserta menggunakan dresscode berwarna gelap dan dekorasi ruangan pentas budaya lantai 7 Fakultas Ilmu Budaya dihias sesuai dengan tema korupsi kali ini yaitu dengan berbagai gantungan uang palsu di setiap sudut ruangan dan pintu masuk ruangan. Acara dibuka dengan penampilan antrokustik dengan membawakan beberapa lagu-lagu sehingga acara terasa hidup. Dilanjutkan dengan pemutaran video animasi tentang korupsi yang terjadi di indonesia mulai dari kasus suap menyuap pembangunan di kota, penebangan hutan untuk perkebunan sawit, pengeboran minyak secara berlebihan tetapi kelangkaan bahan bakar terus terjadi, minimnya fasilitas pendidikan yang ada di Indonsia, sulitnya membuat surat ijin mengemudi sehingga orang-orang mulai berpindah ke calo, dan diakhiri dengan video tentang KPK untuk indonesia.
Gratifikasi (korupsi) dalam lingkaran sistem kultural masyarakat melalui perspektif Marcell Mauss tentang pemberian menjadi topik bahasan bapak Danny Sutopo . Gratifikasi yang terjadi hanya secara normatif namun membiarkan aspek kulturalnya. Korupsi bermetaforfosis sedemikan rupa dalam perkembangannya yang sangat mencengangkan. Gratifikasi dalam tataran normatif masuk dalam UU No 30 tindak pidana korupsi 1999. Menurut beberapa ahli harus diciptakan sebuah mekanisme perangkat hukum dan perangkat politik untuk menjaga agar praktik gratifikasi tidak terjadi.
Perangkat hukum : hakim, jaksa, polisi, MA, dan KPK
Perangkat politik : DPR dan Partai Politik



GRATIFIKASI DALAM TATARAN NORMATIF
Lalu pertanyaannya siapakah yang akan mengawasi para perangkat hukum dan politik jika mereka yang melakukan tindakan korupsi? Hal yang sangat kompleks dan menemui jalan buntu di dalamnya. Expecto crazy adalah karakter kekuasaan oleh elit-elit terpilih yang berjalan untuk kepentingan untuk elit itu sendiri. expecto crazy bekerja dalam mekanisme tertutup dan tidak tersentuh oleh pengawasan karena mereka sendirilah yang harusnya mengawasi. Kesimpulannya adalah bahwa permasalahan pemberantasan korupsi yang kurang maksimal dikarenakan pengawasan yang lemah. 

 GRATIFIKASI DALAM TATARAN KULTURAL
Pemberian dalam masyarakat merupakan praktik kebudayaan yang sudah tercipta sejak lama. Pemberian (gift) adalah kebudayaan yang didalamnya mengandung banyak aspek dan fungsi yang menjadikan sifat keteraturan dalam masyarakat dalam kehidupannya (ordering).  Wujud dari the gift dan gratifikasi mempunyai bangunan yang sama meskipun esensi dan praktiknya berbeda.
Kesamaan yang ada pada gratifikasi dan the gift adalah ada yang memberi dan menerima serta terdapat fungsi dari pemberian tersebut sedangkan Perbedaannya adalah Esensi dari fungsinya, jika gratifikasi dilakukan secara tertutup maka the gift dilakukan secara terbuka. The gift yang dimaksud marcell mauss memiliki totalitas kultural sedangkan gratifikasi cenderung mengarah pada sirkulasi elit tertentu sedangkan the gift cenderung lebih luas ke berbagai lapisan masyarakat.
Acara dilanjutkan dengan sesi diskusi ada empat orang penanya yang kemudian dijawab oleh bapak Danny Sutopo. Diantara empat orang salah satunya adalah saudara Lukman Faizin dari antropologi angkatan 2012 yang menanyakan mengapa rakyat tidak disinggung dalam hal ini?. Dilanjutkan dengan penanya selanjutnya yang membuat acara diskusi semakin menarik. Acara terakhir yaitu penutup oleh moderator yaitu saudara Andika Nur Perkasa yang mengulas kembali benang merah yang telah didiskusikan pada diskusi kali ini. Setelah penutup para peserta mulai meninggalkan ruangan dan acara selesai dengan banyak ilmu dan pengalaman yang dapat dipetik dari acara ini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar